Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya

Ratu Sekop dan cerita cerita lainnya Sebelum dikenal lewat karya karya berlatar era kolonial yang menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa Iksaka Banu telah terlebih dahulu meramaikan lembar sastra media massa ternama Indonesia

  • Title: Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya
  • Author: Iksaka Banu
  • ISBN: 9789791260725
  • Page: 226
  • Format: Paperback
  • Sebelum dikenal lewat karya karya berlatar era kolonial, yang menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Iksaka Banu telah terlebih dahulu meramaikan lembar sastra media massa ternama Indonesia seperti majalah Matra, Femina, dan Koran Tempo dengan cerpen cerpennya yang imajinatif, absurd, dan sesekali berbau fiksi sains dengan latar kehidupan urban yang kuat Ratu SeSebelum dikenal lewat karya karya berlatar era kolonial, yang menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Iksaka Banu telah terlebih dahulu meramaikan lembar sastra media massa ternama Indonesia seperti majalah Matra, Femina, dan Koran Tempo dengan cerpen cerpennya yang imajinatif, absurd, dan sesekali berbau fiksi sains dengan latar kehidupan urban yang kuat Ratu Sekop dan Cerita cerita Lainnya menghimpun karya karya terserak tersebut ditambah beberapa cerpen yang belum pernah dipublikasikan.Pembaca bisa mendapati seorang dukun yang semua barang di ruang tamunya mempunyai kembaran seorang istri yang bisa membaca pikiran setelah kesetrum comedy of errors seorang pelukis frustrasi Indonesia pasca Perang Dunia Ketiga 500 tahun ke depan dan upaya mengatasi kelangkaan sumber daya serta absurditas absurditas lainnya yang memberi cerminan dan renungan bagi absurdnya kehidupan kita sendiri sekarang.

    183 Comment

    • Steven S says:

      Setelah beberapa tahun memenangkan penghargaan Kusala Sastra 2014, Iksaka Banu kembali hadir menyapa pembaca lewat karya terbarunya di Marjin Kiri. Berbentuk kumpulan cerita pendek. Semua cerpen yang ada memiliki benang merah yaitu kisah yang kelam. Noir. Tidak butuh lama, saya menandaskan "Ratu Sekop". Iksaka Banu at his best. Buku ini menjadi pamungkas dan favorit saya di bulan September. Bila saja Ratu Sekop masuk dalam penjurian Tokoh Sastra Tempo tahun 2018. Saya kira tak berlebihan karya i [...]

    • Teguh Affandi says:

      Nuansa dalam buku kumpulan cerpen ini memang berbeda dengan prosa-prosa yang sudah kita cirikan kepada Iksaka Banu. Bila dua buku lainnya, Semua Untuk Hindia dan Sang Raja bernuansa prosa-kolonial, lantaran kisah dan latarnya. Dalam buku ini, kita lebih akan menemukan dunia urban, futuristik, dan sedikit absurd. Meski saya masih belum sepakat dengan scin-fi yang pengulas (dalam bedah buku ini Sabtu, 23 September kemarin di UI). Saya lebih senang menyebut sebagai kisah yang mungkin futuristik.Cer [...]

    • Henny says:

      GRC 2018 18/71.Belanjaan dadakan tanpa ekspektasi yang ternyata luar biasa sekali. Adegan demi adegan disajikan dengan tempo cepat, imbang antara aksi-dialog-dan-deskripsi, serta tentunya pilihan kata yang sulit kunilai dengan kata-kata. Kadang diksinya tak terduga, tetapi menancap di hati. Yang juga sangat menarik adalah cara twist-twist diselipkan di tengah dan akhir nyaris tiap cerita.Satu-satunya cerita yang kurang berkesan buatku adalah Istana Gotik. Selebihnya semua berkesan.Favorit: Film [...]

    • cindy says:

      13 cerpen yg terasa segar, orisinil, tapi juga punya daya ledak mengagetkan di ujung-ujungnya. Jika dulu saya sangat menikmati sajian seting kolonial dalam kumcer Semua untuk Hindia, maka di kumcer ini seting-seting yg dipilih menjadi panggung jauh lebih beragam, dgn genre tema yg juga beraneka macam. Satu yg jelas jadi pengikat adalah kegelapan penceritaannya. Kelam. Noir. Cerpen pembukanya, Film Noir, serta cerpen berjudul Belati jadi contoh terbaiknya. Dark. Semuanya penuh bayang-bayang kelab [...]

    • Ursula Florene says:

      Buku ini rasanya seperti cemilan yang menyenangkan. Mungkin saat otakmu lelah dan penat karena satu dan lain hal, cumitlah satu persatu 13 cerita pendek di buku ini dan mungkin yang ruwet bisa agak lurus sedikit.Tadinya saya mau bilang seperti membaca Ken Liu karena kisah-kisah Iksaka Banu ini rata-rata science fiction. Tapi rasanya kurang pas. Gaya ceritanya lebih mengingatkan saya pada Seno Gumira Ajidarma, yah anggaplah bapak itu banting setir sedikit ke ranah sains bukan bermain linguistik a [...]

    • Ahmad says:

      Cerita-cerita Iksaka mengingatkan aku pada cerita-cerita yang dulu aku baca di majalah-majalah yang terdapat di perpustakaan sekolah saat aku masih duduk di sekolah menengah. Cerita-cerita itu hadir dengan kesederhanaan yang khas dan seakan-akan berutur dengan bahasa yang begitu mudah dipahami namun pada saat yang sama juga memberikan efek misterius dan plot dengan twist yang cerdas. Tipikal penuturan yang sederhana ini yang sudah jarang aku temukan pada cerita-cerita yang terbit belakangan. Ent [...]

    • Dimas AT Permadi says:

      Premis-premisnya menarik! Walau beberapa kelokan di cerpen "Cermin", "Listrik", "Jubah" dan "Lelaki dari Negeri Halilintar" sudah saya bisa prediksi. Namun tetap saja asyik untuk diikuti. "Belati" sukses membuat saya terpingkal, juga mengingatkan saya dengan film pendek karya Peter Capaldi yang berhasil meraih oscar dengan judul Franz Kafka's It's Wonderful Life. Yah, kesimpulannya cukup memuaskan.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *